KH. ABDULLAH SALAM, KIAI KHARISMATIK YANG RENDAH HATI

KH. ABDULLAH SALAM, KIAI KHARISMATIK YANG RENDAH HATI
KH. Abdullah Salam
KH. Abdullah Salam atau akrab disapa Mbah Dullah, Kajen, Pati, Jawa Tengah, dikenal sebegai sosok kiai dermawan, sederhana, dan rendah hati. Sepanjang hayatnya beliau baktikan untuk agama dan ummat.Kiai yang dimasa hidupnya berperawakan gagah dengan sorot mata yang tajam, menanamkan kesan mendalam bagi KH. Ahmad Musthofa Bisri (Gus Mus). Dalam salah satu uraiannya, Gus Mus berkisah tentang sosok Mbah Dullah yang pernah menjabat sebagai Syuriah NU tersebut.

Gus Mus menuturkan, melihat rumah Mbah Dullah yang tidak lebih baik dari gotakan tempat tinggal santri-santrinya, mungkin orang mengganggapnya miskin, tapi tengoklah setiap minggu sekali pangajian beliau diikuti oleh ribuan orang dari berbagai penjuru dan semua yang hadir disuguhi makanan.

Diluar pengajian tersebut, setiap hari beliau menerima tamu dari berbagai kalangan yang rata-rata membawa masalah untuk dimintakan pemecahannya. Mulai dari persoalan keluarga, Ekonomi, hingga yang berkaitan dengan politik, tak terkecuali, pedagang akik dan minyak wangi pun beliau terima dan beliau 'beri berkah' dengan membeli daganggannya.

Gus Mus terkenang ketika Mbah Dullah masih menjadi pengurus (Syuriah) NU, yang aktifnya melebihi yang muda-muda, beliau tidak pernah absen menghadiri musyawarah semacam Bahtsul Masaail dan lain-lain. Kemudian, pada saat pembukaan Muktamar NU ke  28 di Situbondo, Jawa Timur, panitia meminta beliau-atas usul Kiai Syahid Kemadu-untuk membuka Muktamar dengan memimpin pambacaan AL-Fatihan sebanyak 41 kali, dan beliau pun berjalan kaki dari lokasi parkir yang begitu jauh menuju tempat sidang, semata-mata agar tidak menyusahkan panitia.

Diluar kegiatan NU, semasa kondisinya masih kuat, beliau juga menghadiri undangan dari berbagai daerah untuk memimpin khataman Qur'an, menikahkan orang, memimpin do'a dan lainnya. Ketika kondisi beliau sudah tidak begitu kuat, orang-orang menyelenggarakan acaranya di rumah beliau.

Gus Mus melanjutkan, meskipun sangat disegani dan dihormati termasuk oleh kalangan ulama, Mbah Dullah adalah Kiai yang menyukai musyawarah. Beliau bersedia mendengarkan, bahkan tak segan-segan meminta pendapat orang lain, termasuk dari kalangan yang lebih muda. Beliau rela meminjamkan telinganya sekedar untuk menampung pembicaraan sepele orang awam. ini adalah bagian dari sifat tawadhu.

Tawadhu atau rendah hati dan kedermawanan adalah sikap yang hanya bisa dijalani oleh mereka yang kuat lahir batin, seperti Mbah Dullah. Mereka yang mempunyai kelebihan, jarang yang mampu melakukannya. Mempunyai sedikit kelebihan, apakah itu berupa kekuatan, kekuasaan, kekayaan, atau ilmu pengetahuan, biasanya membuat orang cenderung arogan atau minimal tak mau direndahkan.

Sosok seperti Mbah Dullah, adalah tokoh yang mulai langka di zaman ini. Tokoh yang hidupnya seolah-olah didedikasikan untuk masyarakat. Bukan saja kerena beliau punya pesantren dan madrasah yang sangat berkualitas, lebih dari itu sepanjang hidupnya, beliau tidak berhenti melayani ummat secara langsung atau pun melalui organisasi.

Beliau tidak hanya memberikan waktu untuk santri-santrinya, tapi juga untuk orang-orang awam. Beliau mempunyai pangjian umun rutin untuk kaum pria dan kaum wanita yang dengan tawadhu beliau sebut sebagai 'belajar bersama'.Mereka yang mengaji tidak hanya diberi ilmu dan hikmah,tapi juga makan setelah mengaji.

Pernah ada seorang kaya yang ikut mengaji, berbisik-bisik "Orang sekian banyaknya yang mengaji kok dikasih makan semuanya, kan kasian Kiai", dan orang tersebut sehabis mengaji menyalami beliau dengan salam tempel, bersalaman dengan menyelipkan uang. Spontan beliau minta diumumkan, agar jamaah tidak usah bersalaman sehabis mengaji, "Cukup bersalaman dalam hati saja" kata beliau.

Orang kaya itu kemudian diajak Mbah Dullah ke rumahnya yang sederhana, lalu diperlihatkan tumpukan karung beras yang nyaris menyentuh atap rumah. "Lihatlah, saya ini kaya" kata beliau pada tamunya.

Kisah lain, pernah suatu hari datang menghadap Mbah Dullah, seseorang dari luar daerah dengan membawa segepok uang ratusan ribu. Uang itu disodorkan kepada Mbah Dullah sambil berkata "Terimalah ini Mbah, sedekah kami alakadarnya".

"Ditempat Sampean apa sudah tak ada lagi orang faqir?" tanya Mbah Dullah tanpa sedikit pun melihat tumpukan uang  yang disodorkan tamunya, "Kok Sampean repot-repot membawa sedekah kemari?".

"Orang-orang faqir di tempat saya sudah kebagian semua, Mbah, semua sudah saya beri, jawab si tamu. apa Sampean menganggap saya ini orang faqir?". tanya Mbah Dullah. "Ya tidak Mbah" Jawab si tamu. Mbah Dullah menukas, "Kalau begitu,  Sampean bawa kembali uangnya, Berikan kepada orang faqir yang memerlukan!"

Senada dengan kisah di atas, menurut penuturan Andri, santri almarhum Kiai Saudi Effendi, Jombang. Ia mengurai kisah yang didapati dari Kiainya, pada suatu hari, Mbah Dullah kedatangan tamu dengan maksud minta kesembuhan.Di hadapan Kiai Kharismatik ini, tamu itu mengutarakan maksudnya, "Mbah, saya minta kesembuhan penyakit saya. Sudah bertahun-tahun saya terkena penyakit kencing manis dan kencing batu".

Mendengar keluhan tamunya, Mbah Dullah berkata, "Sampean ini bagaimana, wong sakit begitu kok malah datang ke saya, tidak ke dokter saja?" Tamu itu menjawab, "Saya sudah ke dokter Mbah, bukan hanya satu, dan tidak pernah ada perkembangannya, malah beberapa bulan ini tambah parah". Beliau menjawab, "Sampean ini aneh. Lha, kalau dokter saja tidak bisa menyembuhkan, apalagi saya. Wong saya ini bukan dokter, juga bukan dukun. "Si tamu lalu memelas, "Saestu, Mbah... Pokoknya saya minta tolong, bagaimana caranya supaya penyakit saya lekas sembuh".

Mbah Dullah kemudian berkata, "Baiklah kalau begitu, jika memang Sampean ngawur minta obat ke saya, saya juga ngawur memberi obat ke Sampean". Kemudian beliau masuk sebentar dan keluar lagi sambil membawa sebotol madu. "ini saya punya madu asli. Diminum ya pagi satu sendok, Sore satu sendok".

Tamu itu pun jadi heran, "Mbah penyakit saya ini kencing manis. Apa tidak bahaya kalau saya minum madu?" Lho, tadi kan sudah saya bilang, saya ini bukan dokter, juga bukan dukun. Sampean ngawur minta obat ke sini, saya ngawur memberikan obat ke Sampean. Tapu meski begitu, Sampean jangan meremehkan, khasiat madu itu ada dalam Al-Qur'an. Sekarang terserah Sampean, mau percaya apa Ndak", timpal Mbah Dullah. Akhirnya tamu itu pulang sambil membawa madu pemberian Mbah Dullah.

Selang beberapa waktu kemudian, tamu itu sembuh dari penyakitnya. Bersyukur atas kesembuhannya, ia sowan lagi ke Mbah Dullah dengan membawa uang dalam amplop. Ketika amplop itu mau dihaturkan, Mbah Dullah langsung berkata, "Apa di tempat Sampean sudah tidak ada orang miskin?" Apa Sampean menganggap saya ini miskin?" Kalau Sampean menganggap saya ini miskin, ya saya terima!" "Tidak Mbah", Jawab si tamu dengan raut wajah malu dan kaget.

"Ya sudah, kalau begitu uangnya Sampean bawa pulang saja, berikan kepada yang lebih membutuhkan", tamu itu pun akhirnya pulang sambil mambawa uangnya kembali.

Demikian Kisah sejati KH. Abdullah Salam seorang Kiai Kharismatik yang rendah hati. Beliau wafat pada 25 Sya'ban 1422H (11 November 2001 M), dan dimakamkam di dekat surau sederhananya, di Polgarut, Kajen, Pati, Jawa Tengah. Dengan harapan kita dapat meneladaninya, mari kita kirimkan surat Fatihah untuk Beliau AL-Fatihah. Artikel ini dikutip dari Buletin PADASUKA Edisi 06/Th.I/01 Maret 2015.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "KH. ABDULLAH SALAM, KIAI KHARISMATIK YANG RENDAH HATI"